INLINK, TANGERANG | Wihara atau tempat ibadah Tri Dharma ‘Chi San Bio’ Tangerang Banten baru saja menggelar ritual sembahyang Cioko. Ritual itu dikatakan sesepuh Tionghoa Omah Lusiana sebagai ritual bulan rebutan.
“Umat kami Tionghoa sangat mempercayai sembahyang Cioko atau sembahyang rebutan yang selalu dilaksanakan sekali dalam 1 tahun. Karena ritual ini yang kami yakini untuk menghormati para arwah leluhur dan juga arwah yang tidak memiliki sanak saudara atau yang bisa kita namakan sebagai arwah lapar. “Kata Omah Lusiana di tempat ibadah Tri Dharma Tangerang, Jum’at (19/9/2025).

Dilansir dari wikipedia, sembahyang Cioko atau istilahnya sembahyang rebutan merupakan kepercayaan dan keyakinan masyarakat Tionghoa yang dilaksanakan tanggal 15 bulan 7 Imlek dengan tujuan untuk menghormati arwah leluhur dan arwah yang tidak memiliki sanak keluarga atau arwah kelaparan.
Tujuannya lanjut Omah Lusiana untuk memberikan makan dan membekali arwah-arwah tersebut agar tidak mengganggu manusia, “puncaknya adalah pembagian atau perebutan sesaji berupa makanan dan kertas oleh masyarakat yang membutuhkan. “Ucap dia.
Masyarakat mungkin masih asing atau bahkan awam mendengar sembahyang tersebut, namun bagi warga Tionghoa dan konteks lintas agama, ritual itu sangat dikenal sebagai Festival Hantu Lapar atau Hungry Ghost Festival.
Ritual sembahyang Cioko atau istilah trendnya sembahyang rebutan menjadi hal penting dan prioritas yang kerap dilakukan tempat ibadah Tri Dharma ‘Chi San Bio’ untuk menyambut bulan rejeki berikutnya.
“Kami warga Tionghoa meyakini itu. Keyakinan kami karena setiap arwah harus dihormati dan diberikan perhatian khusus. Dengan festival ritual ini para arwah yang lapar atau istilahnya Chung Yuan. “Ujar Omah Lusiana.
*Hal-hal dan Tujuan tentang ritual sembahyang Cioko alias sembahyang rebutan dapat diartikan sebagai berikut:*
1. Untuk menghormati Leluhur, dengan memberikan persembahan kepada arwah leluhur yang telah tiada;
2. Menjamu Arwah Gentayangan, dengan memberi makan kepada roh-roh yang tidak memiliki sanak keluarga atau terlupakan, agar tidak mengganggu manusia;
3. Berbagi Berkah, dengan sesaji yang dibagikan dapat menjadi rezeki bagi masyarakat kurang mampu.
*Prosesi Sembahyang Rebutan*
1. Persiapan, warga menyiapkan sesaji berupa makanan, minuman, buah-buahan, dan barang-barang lainnya untuk diletakkan di altar;
2. Pemujaan, pengurus klenteng atau rumah akan memimpin upacara sembahyang kepada dewa dan arwah;
3. Pembagian Sesaji, setelah ritual, pintu klenteng dibuka dan sesaji, seperti beras, mie, atau minyak, dibagikan atau direbut oleh masyarakat yang menunggu di luar.
*Aspek Budaya dan Sosial*
1. Simbolisme, perebutan sesaji melambangkan kemurahan hati dan berbagi rezeki;
2. Kerukunan Sosial, perayaan ini menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian sosial di antara masyarakat, melintasi batas agama dan kepercayaan;
3. Tradisi yang Meluas, Selain di Indonesia, tradisi ini juga dikenal di komunitas Tionghoa internasional sebagai Ghost Festival.





