INLINK, Jakarta | Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan di Jakarta Utara telah beroperasi sejak awal Februari 2025. Diklaim RDF itu mampu mengolah sampah sebanyak 2.500 ton per hari.
“RDF Plant Rorotan ini dibangun sejak 2024 di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, dan didesain untuk mengolah 2.500 ton sampah/hari atau sekitar 30% sampah Jakarta menjadi Refused Derived Fuel (RDF) min. 875 ton/hari,” tulis akun media sosial @dinaslhdki, Senin (2/12/2024).
Koalisi Pemuda Mahasiswa Jakarta (KOMPI JAKARTA) datangi balaikota DKJ guna menyikapi keluhan warga berdampak disekitar proyek RDF Rorotan pada hari Kamis, (26/02/2025).
Mereka menekankan kepada Pemprov DKJ Jakarta harus segera mengambil kebijakan serius dalam menanggapi permasalahan ini, karena dampaknya negatif terhadap kesehatan dan kualitas hidup warga sekitar akibat paparan bau busuk yang terus – menerus.
Kasus ini tidak bisa di selesai hanya dengan permintaan maaf saja, perlu adanya teguran tegas kepada pihak penanggung jawab yaitu KSO Wika Jaya Konstruksi dan PT Asiana Technologies Lestary dan Dinas LH Jakarta karena lambatnya dalam perbaikan sistem dan pencegahan kebocoran.
Dari pembangunan RDF tersebut faktanya Kenyamanan warga sekitar Proyek Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta terganggu dengan aroma tak sedap yang ditimbulkan dari cerobong pengolahan sampah itu, diduga bau tak sedap muncul akibat masalah teknis saat proses pengujian dan pemeriksaan di tempat pengolahan sampah.
Aroma menyengat yang diduga mirip bau zat kimia sudah tercium dari awal Februari dan sudah menyebar kemana mana, namun setelah viral baru adanya tindakan dari pihak pengelola.
Proyek infrastruktur dengan anggaran fantastik senilai Rp 1,3 triliun ini seharusnya melayani warga dengan baik tetapi malah membuat mereka hidup tidak nyaman.
Pernyataan dari Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKJ Jakarta Asep Kuswanto, yang mengatakan kalau RDF Plant mempunyai sistem pengendalian bau yang canggih, sangat bertolak belakang dengan kesaksian masyarakat sekitar RDF Plant Jakarta yang kerap mencium bau busuk dari fasilitas proyek, pernyataan tersebut seakan-akan melindungi dan menutupi kegagalannya dalam mengawasi sistem di proyek RDF Plant Jakarta.
Proyek strategis yang digagas oleh Pemprov Jakarta ini, dari awal sudah tercium adanya aroma busuk, bukan hanya kebocoran cerobong tetapi diduga adanya kebocoran anggaran dalam pekerjaan proyek, kata Heder.
Maka dari itu, kami harap adanya kolaborasi antara Pemprov DKJ Jakarta dan Aparat Penegak Hukum untuk melakukan audit investigasi, karena proyek yang menghabiskan banyak uang, tetapi masalahnya tidak bisa diselesaikan dengan baik patut diduga? atau curigai.
Tuntutan kami :
1. Meminta Gubernur DKJ Jakarta, Bapak Pramono Anung untuk membatalkan peresmian RDF Plant Jakarta yang telah mencemarkan lingkungan dan membahayakan kesehatan Warga sekitar.
2. Mendesak Gubernur DKJ Jakarta memberikan sanksi tegas kepada PT Asiana Technologies Lestary, KSO Wika Jaya Konstruksi dan Kadis LH DKJ Jakarta, Asep Kuswanto akibat insiden kebocoran yang terjadi di proyek RDF Jakarta sehinggah mengganggu aktivitas warga.
3. Melakukan investigasi terkait kebocoran yang terjadi di fasilitas RDF Jakarta yang menimbulkan bau busuk mirip pupuk kimia, dan audit anggaran dari proyek tersebut.
4. Copot Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Asep Kuswanto yang dinilai melindungi dan gagal dalam mengawasi kinerja dari PT Asiana Technologies Lestary dan KSO Wika Jaya Konstruksi.
5. Evaluasi Pejabat dinas LH DKJ Jakarta, serta blacklist PT Asiana Technologies Lestary dan KSO Wika Jaya Konstruksi dari daftar tender di lingkungan Pemprov DKJ Jakarta.
Dengan adanya 5 poin tuntutan yang disampaikan oleh pada aksi pendemo KOMPI JAKARTA didepan kantor Balaikota DKJ, dari pihak pemprov DKJ tidak satupun yang hadir menemui dan memberikan tanggapan, hingga peserta aksi demo membubarkan diri.
Heder Saliu mengatakan apabila pihak terkait tidak segera merespon aspirasi kami yang juga sebagai perwakilan warga, maka kami akan meminta kepada pihak kejaksaan, BPK bahkan Presiden Prabowo untuk mengetahui permasalahan ini, tutup Heder.





