INLINK, Kabupaten Semarang – SMP Negeri 1 Tuntang terus memperkuat penyelenggaraan pendidikan inklusi dengan memberikan layanan pembelajaran terstruktur bagi 16 peserta didik berkebutuhan khusus (PDBK) pada Tahun Pelajaran 2025/2026.
Sekolah yang berlokasi di Jalan Jelok–Timo Km. 04, Ngajaran, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, tersebut menjadi salah satu penyelenggara pendidikan inklusi yang menerapkan pembelajaran tanpa diskriminasi, sehingga peserta didik berkebutuhan khusus dapat belajar bersama siswa reguler sesuai kebutuhan masing-masing.
Kepala SMP Negeri 1 Tuntang, Sokhifatun Nakhiroh, S.Pd., M.Pd., mengatakan, penyelenggaraan pendidikan inklusi merupakan komitmen sekolah dalam memberikan layanan pendidikan yang setara bagi seluruh peserta didik.
“Kami telah siap dan mampu menyelenggarakan pendidikan inklusi, didukung oleh tenaga pendidik yang kompeten dan sarana prasarana yang memadai,” ujarnya.
Berdasarkan hasil identifikasi dan asesmen, sebanyak 16 peserta didik berkebutuhan khusus terdiri atas 10 siswa dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), tiga siswa dengan hambatan penglihatan (low vision), dan tiga siswa dengan hambatan intelektual (tunagrahita).
Untuk mendukung proses belajar, sekolah menerapkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap siswa. Bagi siswa low vision disediakan tempat duduk di barisan depan, pencahayaan yang memadai, jalur mobilitas aman, serta materi pembelajaran dengan huruf berukuran besar. Tiga siswa pada kategori tersebut juga telah menerima bantuan kacamata dari Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Semarang.
Sementara itu, siswa ADHD mendapatkan penempatan duduk di dekat guru, fasilitas calming corner, instruksi pembelajaran yang sederhana, pembagian tugas secara bertahap, serta jeda belajar (brain breaks). Adapun bagi siswa tunagrahita, sekolah menyusun Program Pembelajaran Individual (PPI), menggunakan media pembelajaran konkret, serta menerapkan metode pengulangan secara bertahap. Salah satu siswa juga telah dirujuk ke Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk memperoleh layanan yang lebih intensif.
Pelaksanaan pendidikan inklusi didukung Guru Pembimbing Khusus (GPK), Windu Pujiani, S.Pd., yang telah mengikuti Diklat Guru Inklusif sejak 2024. Selain itu, sebanyak 15 guru sedang mengikuti pelatihan pendidikan inklusif melalui platform Ruang GTK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah pada 2026.
Dalam meningkatkan kualitas layanan, SMP Negeri 1 Tuntang juga menjalin kerja sama dengan psikolog klinis, Puskesmas Tuntang, dan SLB terdekat dalam pelaksanaan asesmen serta pendampingan peserta didik. Orang tua turut dilibatkan melalui koordinasi dan sosialisasi secara berkala.
Melalui program yang telah berjalan, SMP Negeri 1 Tuntang berharap dapat terus menjadi rujukan penyelenggaraan pendidikan inklusi di Kabupaten Semarang, sekaligus memperoleh dukungan berkelanjutan dari Dinas Pendidikan agar seluruh peserta didik dapat berkembang sesuai potensi yang dimiliki.





